Kalimat itu dulu pernah ada yang mengucapkan, tapi tak kuingat siapa "negara yang aneh". For me, that refers to the weather in this country. So weird but amazing at the same time. Maklum, karena negaraku adalah negara tropis yang cuma punya 2 musim (tak termasuk di dalamnya musim durian, musim banjir, musim kondangan or musim kampanye).
Pertama sampai di negara ini, orang-orang menyebut "autumn season". Sayangnya, saat itu berbagai macam "shock" membuatku lupa untuk menikmati musim gugur. Tahun ini baru bisa bener-bener kunikmati dan kukagumi dia. Ketika daun mulai berubah warnanya dari hijau lalu merah kemudian kuning dan akhirnya jatuh. Indah. Pernah kulihat 3 warna sekaligus pada 1 pohon. Seperti menceritakan aku, dulu, sekarang, dan nanti saat tiba waktunya berada di tanah. Setelahnya, hampir semua pohon tak berdaun. Tertinggal rantingnya saja yang kurus dan menjuntai. Sebagian kecil semak dan rumput yang masih bertahan dengan hijaunya. Hmmm...
Lalu orang-orang berganti menyebut "winter season". Tahun-tahun lalu, salju biasanya turun di bulan Januari atau Februari, tapi tidak tahun ini. 23 November, sehari sebelum umurku genap 26 tahun, salju turun. Thanks Robb for this "cadeau". What can I say about the snow? Luar biasa. I love snow. Dengan semua kekurangannya, dingin dan licin. Tapi putih itu aku suka. Sepertinya Dia menutup semua yang ada di atas bumi ini dengan kain halus berwarna putih. Seperti sesuatu yang baru saja hadir. Putih, tak bernoda. Dan kembali seperti mengingatkanku, 26 tahun yang lalu, ketika ibu bertaruh nyawa untukku, ketika ayah mengumandangkan adzan pertamaku, ketika tangis adalah hal pertama yang kubisa, ketika Dia memberiku kesempatan untuk hidup di dunia ini sebagai manusia yang putih, tak bernoda.
Entah memang begitu hukum alamnya atau hanya kebetulan saja, hari setelah turun salju akan selalu ceria, surya pun menampakkan dirinya. Cantik.
"Winter" tak hanya berarti "sneew", tapi juga hujan dan angin. Hal lain yang membuat negara ini semakin aneh. Detik ini kulihat merah surya di ufuk timur, tapi tak berselang 10 menit, langit telah mengubah wajahnya menjadi kelabu. Dan menit berikutnya, langitpun meneteskan airnya bersama angin yang meniup entah darimana. Dinginpun melebihi ketika salju turun. Sisi lain dari musim ini.
Haripun berubah, menjadi lebih panjang. Dedaunan mulai tumbuh. Bunga mulai bermekaran. Sedikit demi sedikit, seperti sedang menggeliat bangun dari tidurnya. Kelinci, tupai mulai berani keluar dari sarangnya walau masih saja disertai hujan. Nampaknya dia tak rela jika keberadaannya akan dilupakan ketika semua beralih ke indahnya "spring". Matahari jadi lebih rajin muncul di pagi hari. Saat itupun kembali langit akan menunjukkan wajahnya yang cantik, tak tampak sedih dan kelabu, tapi biru dan teduh. Gumpalan kapas melengkapinya. Bergerombol kadang berjajar kadang menutupi wajah langit seperti cadar tipis. Tak pernah kubisa berhenti mengagumi langit. Malam pun tak mau kalah, bintang ribuan, cahayanya berpendaran. Walaupun munculnya tak sesering ketika dia muncul di langit rumahku, tapi dia sama. Sama-sama gemerlap, "glamour" tapi tak mudah diraih.
Dan "summer". Musim yang dinantikan oleh semua. Oleh bunga tulip yang sedang berdormansi, oleh kuncup daun yang ingin melihat matahari, oleh manusia yang rindu hangat mentari. Seakan mengerti, suryapun tidak akan buru-buru pergi. Sabar menemani, hingga batas lelah terlalui. Jam 10 malam baru dia akan beringsut undur diri, juga untuk beristirahat. Agar siap kembali menyinari bumi esok harinya.
Tidak terlalu banyak yang bisa kunikmati dari musim ini. Karena aku telah menikmatinya juga di negaraku sendiri. Hangatnya mentari dan indahnya bunga tulip. Bedanya, di negaraku yang kurasakan adalah gerah, karena bercampurnya polusi dan emosi manusia yang berusaha untuk menafkahi dirinya.
Ketika aku pulang nanti, pasti putihnya salju menjadi hal yang paling ingin kutemui lagi. Tapi aku akan menikmati indahnya langit dan bulan rumahku.
No comments:
Post a Comment