January 23, 2009

Negara yang aneh

Kalimat itu dulu pernah ada yang mengucapkan, tapi tak kuingat siapa "negara yang aneh". For me, that refers to the weather in this country. So weird but amazing at the same time. Maklum, karena negaraku adalah negara tropis yang cuma punya 2 musim (tak termasuk di dalamnya musim durian, musim banjir, musim kondangan or musim kampanye).
Pertama sampai di negara ini, orang-orang menyebut "autumn season". Sayangnya, saat itu berbagai macam "shock" membuatku lupa untuk menikmati musim gugur. Tahun ini baru bisa bener-bener kunikmati dan kukagumi dia. Ketika daun mulai berubah warnanya dari hijau lalu merah kemudian kuning dan akhirnya jatuh. Indah. Pernah kulihat 3 warna sekaligus pada 1 pohon. Seperti menceritakan aku, dulu, sekarang, dan nanti saat tiba waktunya berada di tanah. Setelahnya, hampir semua pohon tak berdaun. Tertinggal rantingnya saja yang kurus dan menjuntai. Sebagian kecil semak dan rumput yang masih bertahan dengan hijaunya. Hmmm...
Lalu orang-orang berganti menyebut "winter season". Tahun-tahun lalu, salju biasanya turun di bulan Januari atau Februari, tapi tidak tahun ini. 23 November, sehari sebelum umurku genap 26 tahun, salju turun. Thanks Robb for this "cadeau". What can I say about the snow? Luar biasa. I love snow. Dengan semua kekurangannya, dingin dan licin. Tapi putih itu aku suka. Sepertinya Dia menutup semua yang ada di atas bumi ini dengan kain halus berwarna putih. Seperti sesuatu yang baru saja hadir. Putih, tak bernoda. Dan kembali seperti mengingatkanku, 26 tahun yang lalu, ketika ibu bertaruh nyawa untukku, ketika ayah mengumandangkan adzan pertamaku, ketika tangis adalah hal pertama yang kubisa, ketika Dia memberiku kesempatan untuk hidup di dunia ini sebagai manusia yang putih, tak bernoda.
Entah memang begitu hukum alamnya atau hanya kebetulan saja, hari setelah turun salju akan selalu ceria, surya pun menampakkan dirinya. Cantik.
"Winter" tak hanya berarti "sneew", tapi juga hujan dan angin. Hal lain yang membuat negara ini semakin aneh. Detik ini kulihat merah surya di ufuk timur, tapi tak berselang 10 menit, langit telah mengubah wajahnya menjadi kelabu. Dan menit berikutnya, langitpun meneteskan airnya bersama angin yang meniup entah darimana. Dinginpun melebihi ketika salju turun. Sisi lain dari musim ini.
Haripun berubah, menjadi lebih panjang. Dedaunan mulai tumbuh. Bunga mulai bermekaran. Sedikit demi sedikit, seperti sedang menggeliat bangun dari tidurnya. Kelinci, tupai mulai berani keluar dari sarangnya walau masih saja disertai hujan. Nampaknya dia tak rela jika keberadaannya akan dilupakan ketika semua beralih ke indahnya "spring". Matahari jadi lebih rajin muncul di pagi hari. Saat itupun kembali langit akan menunjukkan wajahnya yang cantik, tak tampak sedih dan kelabu, tapi biru dan teduh. Gumpalan kapas melengkapinya. Bergerombol kadang berjajar kadang menutupi wajah langit seperti cadar tipis. Tak pernah kubisa berhenti mengagumi langit. Malam pun tak mau kalah, bintang ribuan, cahayanya berpendaran. Walaupun munculnya tak sesering ketika dia muncul di langit rumahku, tapi dia sama. Sama-sama gemerlap, "glamour" tapi tak mudah diraih.
Dan "summer". Musim yang dinantikan oleh semua. Oleh bunga tulip yang sedang berdormansi, oleh kuncup daun yang ingin melihat matahari, oleh manusia yang rindu hangat mentari. Seakan mengerti, suryapun tidak akan buru-buru pergi. Sabar menemani, hingga batas lelah terlalui. Jam 10 malam baru dia akan beringsut undur diri, juga untuk beristirahat. Agar siap kembali menyinari bumi esok harinya.
Tidak terlalu banyak yang bisa kunikmati dari musim ini. Karena aku telah menikmatinya juga di negaraku sendiri. Hangatnya mentari dan indahnya bunga tulip. Bedanya, di negaraku yang kurasakan adalah gerah, karena bercampurnya polusi dan emosi manusia yang berusaha untuk menafkahi dirinya.
Ketika aku pulang nanti, pasti putihnya salju menjadi hal yang paling ingin kutemui lagi. Tapi aku akan menikmati indahnya langit dan bulan rumahku.

January 22, 2009

Free like a bird

Tiap sore, kulihat mereka terbang rendah. Tanpa ada rasa takut. Tanpa ada kecurigaan sesuatu yang akan melukainya bahkan menginginkan nyawanya.

Riang, berkicau, entah mungkin sambil tertawa bersama sejenisnya. Yang terdengar di telingaku hanya bisa kuterjemahkan sebagai kicauan.

Burung-burung itu terbang menuju jendelaku, lalu tiba-tiba membelok, menukik atau menembus awan.

Tak jarang bertandang sejenak di pucuk pohon yang kini tak berdaun. Tapi tak pernah lama, sekejap sudah membentangkan lagi sayapnya di udara.

Bebas.

Mungkin hari adalah semangat baginya. Dan saat hari berubah menjadi malam, mereka akan pulang.

Mungkin segera berbaring ,dengan senyuman dan angan bahwa besok mereka akan terbang lagi. Seingin hati. Menjelajahi langit tak berbatas.

Aku, bisakah sebebas mereka? Aku manusia. Aku mencipta norma. Dan aku hidup dalam aturanNya. Tapi bukankah burung juga hidup dalam aturanNya?

January 19, 2009

Struggling with my experiment

Pffff.... The day is getting harder and harder. Not because the weather, not because my personal "homesick" feeling, not because I'm getting bored. But, because my time is almost end.
No such exciting results, no wonderful graphs, no amazing data.
Do I did something wrong? I think I was doing everything as what it should. I know that there will be mistakes in every experiments but I try to learn from the mistakes and correct it.
Sometimes I feel really under pressure. Even no one push me to work that hard, but myself want me to do. Sometimes I really afraid making a mistake, I work very carefully. Let say a bit time consuming, but since it doesn't against the rule, I'm sure that I have permission to do it.
My department provide me everything I need to run my experiment, so facilities won't be a reason for "not good" results.

Time is other thing, I have only 1,5 months left. Still lot of things to do. Hhhhh... Can I make it?
My bosses said that the thing is I learn something from what I've done and those "things" I should share with my collegue when I back home to my office.
A friend of mine told me that being in this phase, I should really try to enjoy everything in front of me, otherwise I will down.
Robb, tell me what should I do?